Sebuah cerpen yang pernah diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen bertema 'Saat Hati Berbicara' di portal Hutanta.com. Semoga bisa dinikmati.
Jika
ada yang lebih tahu tentang sebuah rahasia, pastilah aku jawabannya. Aku
terlahir dari peleburan malam, keresahan dan amarah terpendam tuanku yang
malang di saat insomnia menderanya. Saat mulut terkunci dan kata-kata enggan
keluar dari tenggorokan, hanya ketukan jemari yang menyuarakan kepiluan.
Dulu,
dulu sekali. Para pendahuluku tercipta dari liuk tari jemari yang disandarkan
pada sebuah pena lalu bergumul dengan tinta hitam di ujung kertas, terbentuklah
sebuah goresan. Bisa jadi sangat berarti, bisa saja sekawanan kata tak
bermakna. Tapi kini ... dunia terlalu canggih, kawan. Beberapa kali hentak, aku
muncul di layar tersusun dalam deret huruf yang apik. Maaf, bila terlalu
berbasa-basi. Kisahku pasti tak menarik bagimu. Akan kuceritakan tentang
catatan harian dan surat-surat tuanku yang tak pernah sampai. Tapi, tunggu
dulu! Terlalu lancang jika kuumbar semua tanpa seijinnya. Bagaimana? Hmm ...
baiklah! Aku terlanjur berjanji. Setelah semua kuceritakan, aku harus segera meminta
maaf sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelancanganku pada tuan.
*®*
Kuajak
matamu langsung menyusur ke bagian inti tulisan;
Lubuk
Begalung, awal Desember 2011.
Tepat
sebulan setelah kuumumkan perpisahan kita. Aku masih mengingat jelas rautmu
yang kecewa. Kau datangi aku dengan amarah menyala-nyala seolah ingin
memuntahkan bara yang dapat membakar sesiapa yang ada di sampingmu. Kau tak
terima, sayang. Harus dengan cara apa aku menjelaskan?
Bermalam-malam,
berminggu-minggu, otakku penat memikirkan usulmu. Terbersit untuk mengambil
pintasan. Toh pada akhirnya benar apa yang kaukata, lambat laun; terpaksa atau
tidak, mereka akan menerima. Pasti. Tapi ... kau jangan cemburu! Wajah
perempuan di seberang sana membuyarkan semua lamunan tentang kita yang
kupikirkan malam itu. Maaf, bila kau merasa aku mengabaikan dan memosisikanmu
di urutan kedua setelahnya. Apa dayaku? Perempuan itu hadir lebih dulu dan
harus kuakui hingga saat ini namanya bermukim di singgasana hati mungkin
selamanya tak akan terganti. Ia datang mengulurkan tangan di saat aku
membutuhkan bantuan tanpa sedikitpun mengharap balasan. Ia tak pernah beranjak
saat aku berpaling dan membagi kasih sayang denganmu. Selama ini ia masih yang
terhebat, tak kenal lelah mengajariku bangkit lalu berjalan kembali saat kuterjatuh.
Aku
yakin, kau pun sama. Ada orang pertama yang jadi prioritasmu. Aku bisa
melihatnya dari pancaran matamu saat terakhir kita bertemu pandang. Saat itu,
kita berdiri di lepas Pantai Air Manis yang konon jadi saksi Si anak durhaka
dikutuk ibunya hingga berubah jadi batu. Hampir tiap liburan kau mengajakku ke
pantai ini. Khusus hari itu, aku tiba lebih dulu karena kita tak pergi
berbarengan lagi. Kau raih tanganku, lirih berkata.
“Ikutlah
denganku dan kita akan bahagia!”
“Maafkan aku. Untuk raih bahagia, bukan cara
ini yang kuinginkan.” Sesaat kupandangi wajahmu lalu kutepiskan cengkraman
tangan yang melingkari lenganku. Aku memalingkan muka ke pijakkan kaki.
Kau
mengguncang-guncang tubuhku yang tertunduk lusuh. “Lantas apa maumu? Coba
katakan padaku jalan keluarnya! Mengapa kau hanya diam dan lantas pasrah? Kita
tak mungkin terbelenggu adat nan diadatkan[1],
Laras.”
“Kau
salah. Bagi keluarga besarmu itu bukanlah adat nan diadatkan, melainkan adat nan sabana adat[2].
Keluarga besarmu adalah keluarga yang patuh adat dan kuhargai itu. Kau harus
mengerti, kita datang dari latar belakang yang berbeda. Kau orang berada dengan
jenjang pendidikan yang tinggi dan keluargamu cukup terpandang di Pariaman. Aku
menyerah. Sekuat apa pun bekerja keras, tak akan mampu membayar besarnya
tuntutan yang diajukan keluargamu. Aku tak memiliki dana untuk menjemputmu,
Buyung!”
“Aku
pernah memberi solusi, bukan? Hilangkan egomu! Terimalah apa yang kuberi dan kaugunakan
uang itu untuk proses bajapuik[3]
nanti. Beres?” Kau bicara sedikit ragu seolah tak yakin akan melakukannya.
Mimik muka yang risau tak mampu kausembunyikan.
“Buyung!”
sahutku parau. “Kau juga harus tahu, keluargaku sama terutama Si Mbok. Aku tak
mungkin mengabaikan perintahnya.” Himpitan di dada teramat berat mendorong bulir
bening menyeruak dari sudut mataku. “Di mana pun kau berada dan dengan siapa
jadinya, kedudukanmu tetaplah urang
sumando[4].
Itu berlawanan dengan adat kami sebagai orang Jawa, justru kaum laki-lakilah
yang biasa melakukan hal itu. Bukan kami, kaum perempuan yang menjemput lelaki
seperti dalam adatmu. Bagiku....” Kuambil jeda. “Arti pernikahan bukan sekedar
menyatukan dua jiwa tapi sekaligus menyatukan dua keluarga. Bagaimana keluarga kita
bisa bersatu jika keluargamu bersikeras dengan keinginan mereka dan Si Mbokku
dengan keinginannya juga?”
“Harga
diri yang kaumaksud?” Gelegar suaramu bagai ombak menghantam karang.
Aku
tak menjawab. Menahan amarah yang kian menyesak, kutarik napas kuat-kuat.
“Sejenak
lupakan tentang harga diri, Larasku!” Suaramu melunak diselingi debur ombak beriak
kecil. Burung Camar mengepakkan sayap kebebasan menembus awan gemawan yang
bergelayut pekat serupa timah hitam di cakrawala. “Kalau kau takut pada ibumu,
tak perlu mengatakan dari mana datangnya dana yang kaupunya.”
Oh,
Buyung! Mungkin bagimu semua urusan bisa diselesaikan dengan materi. Tidak
bagiku. Ada yang lebih penting dari sekedar materi. Kau benar, harga diri. Aku
ingat betul pesan perempuan itu, hanya satu yang harus dimiliki seorang
perempuan Jawa dan harus dipertahankan adalah kehormatan. Harga diri keluarga.
Catatan
itu berakhir. Pada lembar lain aku menemukan surat terpendam yang tak pernah sampai
pada Si Empunya. Seperti yang kalian tebak, Laraswati tuanku terlahir dari
kalangan biasa. Ia berdarah Jawa yang kebetulan merantau ke Ranah Minang dan
telah lima tahun bekerja di Lubuk Begalung, Padang. Ia bekerja pada perusahaan
Asuransi Perkreditan hingga dipertemukan dengan pemuda tampan nan mapan bernama
Buyung. Usia Laras terbilang matang untuk sebuah pernikahan, menginjak tiga
puluh tahun. Mengingat statusnya masih lajang, dalam adat Minang ia disebut gadih gadang indak balaki[5].
Julukan yang cukup membuat kupingnya terasa panas. Sama dengan sebutan perawan
tua bila di Jawa dan inilah surat malangnya yang menurutku terlalu singkat,
kupikir mungkin belum selesai.
*®*
Teruntuk Buyungku
tercinta,
Telah kulalui
perenungan panjang demi memikirkan kebahagiaan kita. Maka aku putuskan untuk
berjuang denganmu. Melawan sistem. Menentang Ninik-Mamak[6]
juga Si Mbok. Perlakuan Amak[7]
yang beda dari Ninik-Mamakmu adalah selaksa pelita bagi kelanjutan hubungan kita.
Tapi terlambat. Di saat aku meninggalkan perempuan yang kusebut Si Mbok di atas
pembaringannya akibat ulahku, di tempat lain, aku menyaksikan kau mengucap
ikrar suci di hadapan wali dan para saksi. Sakit. Sungguh sakit melihatmu
bersisian dengan gadis lain yang di kepalanya terpasang suntiang seberat 8 kilo.
Maka detik itu, cintaku berakhir di hari sakralmu, kota terlarang bagiku. Setidaknya
Si Mbok pernah wanti-wanti untuk tidak menginjak kali kedua di kotamu karena ketidakmampuan
kami mengimbangi permintaan Ninik-Mamak dan keluarga besarmu. “Jangan berani
menyabung cinta di Pariaman jika kau tak memiliki kematangan materi. Apa yang
kita punya? Bahkan tak ada harta yang layak digadai. Lupakan! Semua itu hanya menyusahkan
hatimu sendiri karena cinta kasih yang kaupunya akan mati terjagal adat yang
kuat mengikat mereka. Ingat itu, Nduk!” Ucap Si Mbok saat itu.
Buyung, kau tak pernah
tahu betapa aku merasa gila karena kini kulewatkan hariku dengan
berandai-andai. Seandainya saat itu aku mengesampinkan harga diri dan menuruti pintamu,
atau kita kawin lari? Mungkin ceritanya akan lain. Tapi ... seandainya aku
menurut pada Si Mbok; melupakanmu dan kembali ke tanah Jawa, mungkin saat ini tak
akan dihadapkan pada kenyataan pahit. Kehilangan dua orang yang kucinta dalam
tempo bersamaan adalah siksaan. Si Mbok menghembuskan napas terakhir dari balik
selang oksigen saat aku mengunjungi kotamu dan hanya disaksikan perawat jaga. Naas,
Si anak durhaka ini tak sempat peroleh maafnya. Aku bukan Malin Kundang yang
dikutuk jadi batu seperti dalam dongeng yang melegenda. Lebih dari itu, Tuhan
menghukum dengan mengambil Si Mbok dariku. Tentu aku sadar, kepergian Si Mbok
adalah kehendak Ilahi. Yang kusesalkan adalah cara kepergian yang tak membawa
rasa bahagia di akhir hidupnya. Serupa cintaku yang
terjagal adat nan diadatkan. Apa yang kudapat setelah tunduk pada keegoisan?
Tak ada, Buyung. Di mata keluarga dan orang-orang se-adatmu, aku tetap gadih
gadang indak balaki. Terlarang sudah segala rinduku padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar