Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Rabu, 29 Oktober 2014

Cinta dan Belenggu Adat

Sebuah cerpen yang pernah diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen bertema 'Saat Hati Berbicara'  di portal Hutanta.com. Semoga bisa dinikmati.

Jika ada yang lebih tahu tentang sebuah rahasia, pastilah aku jawabannya. Aku terlahir dari peleburan malam, keresahan dan amarah terpendam tuanku yang malang di saat insomnia menderanya. Saat mulut terkunci dan kata-kata enggan keluar dari tenggorokan, hanya ketukan jemari yang menyuarakan kepiluan.
Dulu, dulu sekali. Para pendahuluku tercipta dari liuk tari jemari yang disandarkan pada sebuah pena lalu bergumul dengan tinta hitam di ujung kertas, terbentuklah sebuah goresan. Bisa jadi sangat berarti, bisa saja sekawanan kata tak bermakna. Tapi kini ... dunia terlalu canggih, kawan. Beberapa kali hentak, aku muncul di layar tersusun dalam deret huruf yang apik. Maaf, bila terlalu berbasa-basi. Kisahku pasti tak menarik bagimu. Akan kuceritakan tentang catatan harian dan surat-surat tuanku yang tak pernah sampai. Tapi, tunggu dulu! Terlalu lancang jika kuumbar semua tanpa seijinnya. Bagaimana? Hmm ... baiklah! Aku terlanjur berjanji. Setelah semua kuceritakan, aku harus segera meminta maaf sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelancanganku pada tuan.
*®*
Kuajak matamu langsung menyusur ke bagian inti tulisan;
Lubuk Begalung, awal Desember 2011.
Tepat sebulan setelah kuumumkan perpisahan kita. Aku masih mengingat jelas rautmu yang kecewa. Kau datangi aku dengan amarah menyala-nyala seolah ingin memuntahkan bara yang dapat membakar sesiapa yang ada di sampingmu. Kau tak terima, sayang. Harus dengan cara apa aku menjelaskan?
Bermalam-malam, berminggu-minggu, otakku penat memikirkan usulmu. Terbersit untuk mengambil pintasan. Toh pada akhirnya benar apa yang kaukata, lambat laun; terpaksa atau tidak, mereka akan menerima. Pasti. Tapi ... kau jangan cemburu! Wajah perempuan di seberang sana membuyarkan semua lamunan tentang kita yang kupikirkan malam itu. Maaf, bila kau merasa aku mengabaikan dan memosisikanmu di urutan kedua setelahnya. Apa dayaku? Perempuan itu hadir lebih dulu dan harus kuakui hingga saat ini namanya bermukim di singgasana hati mungkin selamanya tak akan terganti. Ia datang mengulurkan tangan di saat aku membutuhkan bantuan tanpa sedikitpun mengharap balasan. Ia tak pernah beranjak saat aku berpaling dan membagi kasih sayang denganmu. Selama ini ia masih yang terhebat, tak kenal lelah mengajariku bangkit lalu berjalan kembali saat kuterjatuh.
Aku yakin, kau pun sama. Ada orang pertama yang jadi prioritasmu. Aku bisa melihatnya dari pancaran matamu saat terakhir kita bertemu pandang. Saat itu, kita berdiri di lepas Pantai Air Manis yang konon jadi saksi Si anak durhaka dikutuk ibunya hingga berubah jadi batu. Hampir tiap liburan kau mengajakku ke pantai ini. Khusus hari itu, aku tiba lebih dulu karena kita tak pergi berbarengan lagi. Kau raih tanganku, lirih berkata.
“Ikutlah denganku dan kita akan bahagia!”
 “Maafkan aku. Untuk raih bahagia, bukan cara ini yang kuinginkan.” Sesaat kupandangi wajahmu lalu kutepiskan cengkraman tangan yang melingkari lenganku. Aku memalingkan muka ke pijakkan kaki.
Kau mengguncang-guncang tubuhku yang tertunduk lusuh. “Lantas apa maumu? Coba katakan padaku jalan keluarnya! Mengapa kau hanya diam dan lantas pasrah? Kita tak mungkin terbelenggu adat nan diadatkan[1], Laras.”
“Kau salah. Bagi keluarga besarmu itu bukanlah adat nan diadatkan, melainkan adat nan sabana adat[2]. Keluarga besarmu adalah keluarga yang patuh adat dan kuhargai itu. Kau harus mengerti, kita datang dari latar belakang yang berbeda. Kau orang berada dengan jenjang pendidikan yang tinggi dan keluargamu cukup terpandang di Pariaman. Aku menyerah. Sekuat apa pun bekerja keras, tak akan mampu membayar besarnya tuntutan yang diajukan keluargamu. Aku tak memiliki dana untuk menjemputmu, Buyung!”
“Aku pernah memberi solusi, bukan? Hilangkan egomu! Terimalah apa yang kuberi dan kaugunakan uang itu untuk proses bajapuik[3] nanti. Beres?” Kau bicara sedikit ragu seolah tak yakin akan melakukannya. Mimik muka yang risau tak mampu kausembunyikan.
“Buyung!” sahutku parau. “Kau juga harus tahu, keluargaku sama terutama Si Mbok. Aku tak mungkin mengabaikan perintahnya.” Himpitan di dada teramat berat mendorong bulir bening menyeruak dari sudut mataku. “Di mana pun kau berada dan dengan siapa jadinya, kedudukanmu tetaplah urang sumando[4]. Itu berlawanan dengan adat kami sebagai orang Jawa, justru kaum laki-lakilah yang biasa melakukan hal itu. Bukan kami, kaum perempuan yang menjemput lelaki seperti dalam adatmu. Bagiku....” Kuambil jeda. “Arti pernikahan bukan sekedar menyatukan dua jiwa tapi sekaligus menyatukan dua keluarga. Bagaimana keluarga kita bisa bersatu jika keluargamu bersikeras dengan keinginan mereka dan Si Mbokku dengan keinginannya juga?”
“Harga diri yang kaumaksud?” Gelegar suaramu bagai ombak menghantam karang.
Aku tak menjawab. Menahan amarah yang kian menyesak, kutarik napas kuat-kuat.
“Sejenak lupakan tentang harga diri, Larasku!” Suaramu melunak diselingi debur ombak beriak kecil. Burung Camar mengepakkan sayap kebebasan menembus awan gemawan yang bergelayut pekat serupa timah hitam di cakrawala. “Kalau kau takut pada ibumu, tak perlu mengatakan dari mana datangnya dana yang kaupunya.”
Oh, Buyung! Mungkin bagimu semua urusan bisa diselesaikan dengan materi. Tidak bagiku. Ada yang lebih penting dari sekedar materi. Kau benar, harga diri. Aku ingat betul pesan perempuan itu, hanya satu yang harus dimiliki seorang perempuan Jawa dan harus dipertahankan adalah kehormatan. Harga diri keluarga.
Catatan itu berakhir. Pada lembar lain aku menemukan surat terpendam yang tak pernah sampai pada Si Empunya. Seperti yang kalian tebak, Laraswati tuanku terlahir dari kalangan biasa. Ia berdarah Jawa yang kebetulan merantau ke Ranah Minang dan telah lima tahun bekerja di Lubuk Begalung, Padang. Ia bekerja pada perusahaan Asuransi Perkreditan hingga dipertemukan dengan pemuda tampan nan mapan bernama Buyung. Usia Laras terbilang matang untuk sebuah pernikahan, menginjak tiga puluh tahun. Mengingat statusnya masih lajang, dalam adat Minang ia disebut gadih gadang indak balaki[5]. Julukan yang cukup membuat kupingnya terasa panas. Sama dengan sebutan perawan tua bila di Jawa dan inilah surat malangnya yang menurutku terlalu singkat, kupikir mungkin belum selesai.
*®*
Teruntuk Buyungku tercinta,
Telah kulalui perenungan panjang demi memikirkan kebahagiaan kita. Maka aku putuskan untuk berjuang denganmu. Melawan sistem. Menentang Ninik-Mamak[6] juga Si Mbok. Perlakuan Amak[7] yang beda dari Ninik-Mamakmu adalah selaksa pelita bagi kelanjutan hubungan kita. Tapi terlambat. Di saat aku meninggalkan perempuan yang kusebut Si Mbok di atas pembaringannya akibat ulahku, di tempat lain, aku menyaksikan kau mengucap ikrar suci di hadapan wali dan para saksi. Sakit. Sungguh sakit melihatmu bersisian dengan gadis lain yang di kepalanya terpasang suntiang seberat 8 kilo. Maka detik itu, cintaku berakhir di hari sakralmu, kota terlarang bagiku. Setidaknya Si Mbok pernah wanti-wanti untuk tidak menginjak kali kedua di kotamu karena ketidakmampuan kami mengimbangi permintaan Ninik-Mamak dan keluarga besarmu. “Jangan berani menyabung cinta di Pariaman jika kau tak memiliki kematangan materi. Apa yang kita punya? Bahkan tak ada harta yang layak digadai. Lupakan! Semua itu hanya menyusahkan hatimu sendiri karena cinta kasih yang kaupunya akan mati terjagal adat yang kuat mengikat mereka. Ingat itu, Nduk!” Ucap Si Mbok saat itu.
Buyung, kau tak pernah tahu betapa aku merasa gila karena kini kulewatkan hariku dengan berandai-andai. Seandainya saat itu aku mengesampinkan harga diri dan menuruti pintamu, atau kita kawin lari? Mungkin ceritanya akan lain. Tapi ... seandainya aku menurut pada Si Mbok; melupakanmu dan kembali ke tanah Jawa, mungkin saat ini tak akan dihadapkan pada kenyataan pahit. Kehilangan dua orang yang kucinta dalam tempo bersamaan adalah siksaan. Si Mbok menghembuskan napas terakhir dari balik selang oksigen saat aku mengunjungi kotamu dan hanya disaksikan perawat jaga. Naas, Si anak durhaka ini tak sempat peroleh maafnya. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu seperti dalam dongeng yang melegenda. Lebih dari itu, Tuhan menghukum dengan mengambil Si Mbok dariku. Tentu aku sadar, kepergian Si Mbok adalah kehendak Ilahi. Yang kusesalkan adalah cara kepergian yang tak membawa rasa bahagia di akhir hidupnya. Serupa cintaku yang terjagal adat nan diadatkan. Apa yang kudapat setelah tunduk pada keegoisan? Tak ada, Buyung. Di mata keluarga dan orang-orang se-adatmu, aku tetap gadih gadang indak balaki. Terlarang sudah segala rinduku padamu.




[1] Adat yang diadatkan
[2] Adat sebenarnya, adat yang turun temurun.
[3] Proses menjemput calon suami dalam adat Pariaman.
[4] Tamu
[5] Gadis dewasa tidak/ belum bersuami
[6] Kesatuan pemangku adat, para orang tua.
[7] Ibu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar