Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Rabu, 16 April 2014

Bukan Serumpun Rindu



Katamu, Jawa dan Sumatera tak mungkin menyatu. Tipis harapan bisa bergandengan tangan. Pada semesta kita teriak; berontak. Tersulut pusara rindu di daratan yang berbeda. Kau rindu, aku rindu.

Aku belajar kesetiaan dari gugusan pulau yang terbenam di dasar laut. Mereka terpisah, sebenarnya menyatu. Setia menyangga bobot rindu tak sampai. Rindu yang hanya berisi kisah tentang engkau dan aku.

Ingatkah kau, bukankah jemariku pernah berpesan pada sentuhan yang kulepas di dermaga cinta?
‘Jarak dan waktu bukanlah perintang, aku akan setia menunggu.’

Bila hari mulai gelap, kau ingatkan aku untuk membuka daun jendela. “Lihatlah!” katamu. Nyaris setiap malam aku hanya bisa mendengar desah nafas dan gemerisik celotehmu di balik corong seluler di antara gerak sinyal yang tersendat. Kita berdiri di daratan yang beda, namun menghirup udara dan memandang langit yang sama. Menunggu keajaiban bintang jatuh adalah penawar atas rindu yang membuncah. Lalu, kita berpesan padanya tentang segala kerinduan ini. Begitulah di awal-awal perpisahan yang berbalut jarak dan pengharapan.

Kini ... aku tak yakin kau masih mengecap rasa yang sama. Saat kau berhenti memintaku mengintip malam di daun jendela, saat kau tak lagi menitipkan kerinduanmu pada bintang jatuh. Saat itu pula aku sadar rindumu hanya sebesar ombak pasang, setinggi gunungan pasir yang tergerus hembusan taifun. Kau tak dapat mengelak dari badai itu, sayang. Sungguh kuat pesona bidadari seberang. Bukan salah jarak, tapi perpisahan itu benar-benar nyata terjadi.

Aku rindu, kamu...?
Bukan Serumpun rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar