Katamu, Jawa dan
Sumatera tak mungkin menyatu. Tipis harapan bisa bergandengan tangan. Pada
semesta kita teriak; berontak. Tersulut pusara rindu di daratan yang berbeda. Kau
rindu, aku rindu.
Aku belajar kesetiaan
dari gugusan pulau yang terbenam di dasar laut. Mereka terpisah, sebenarnya menyatu.
Setia menyangga bobot rindu tak sampai. Rindu yang hanya berisi kisah tentang
engkau dan aku.
Ingatkah kau, bukankah
jemariku pernah berpesan pada sentuhan yang kulepas di dermaga cinta?
‘Jarak
dan waktu bukanlah perintang, aku akan setia menunggu.’
Bila hari mulai gelap, kau
ingatkan aku untuk membuka daun jendela. “Lihatlah!” katamu. Nyaris setiap
malam aku hanya bisa mendengar desah nafas dan gemerisik celotehmu di balik corong
seluler di antara gerak sinyal yang tersendat. Kita berdiri di daratan yang
beda, namun menghirup udara dan memandang langit yang sama. Menunggu keajaiban
bintang jatuh adalah penawar atas rindu yang membuncah. Lalu, kita berpesan padanya
tentang segala kerinduan ini. Begitulah di awal-awal perpisahan yang berbalut
jarak dan pengharapan.
Kini ... aku tak yakin
kau masih mengecap rasa yang sama. Saat kau berhenti memintaku mengintip malam
di daun jendela, saat kau tak lagi menitipkan kerinduanmu pada bintang jatuh.
Saat itu pula aku sadar rindumu hanya sebesar ombak pasang, setinggi gunungan
pasir yang tergerus hembusan taifun. Kau tak dapat mengelak dari badai itu,
sayang. Sungguh kuat pesona bidadari seberang. Bukan salah jarak, tapi
perpisahan itu benar-benar nyata terjadi.
Aku rindu, kamu...?
Bukan Serumpun rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar