Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Selasa, 15 April 2014

Nyanyian Tunggal



Seharusnya, kau tahu hari ini aku pergi ke mana karena aku berharap hanya engkaulah yang menemani.

Seharusnya, kita yang lebih dulu duduk berdampingan manunggal dalam romansa, bukan mereka. Karena rencana kita dibuat jauh sebelum mereka.

Seharusnya, tepat sebulan lalu kita mengukir sejarah. Bersetubuh dengan waktu di antara sesepoi angin, gemintang malam dan secangkir kopi.

Seharusnya, kau penuhi janji temani aku hingga masa tua nanti. Bukan seperti ini; meratap sepi, sendiri.

Seharusnya, kau tak perlu pergi. Persetan dengan pengabdian. Apa yang kau dapat darinya? Sebuah prasasti berbalut namamu yang orang katakan sebagai pahlawan, banggakah aku? Ah, sayang! Ia tak pernah bersenyawa dengan gigil rinduku.

Seharusnya,  oh ... seharusnya aku bergerak meninggalkan titik ini. Tak perlu iri dan menitikan air mata melihat kebahagiaan mereka.

Seharusnya, aku menggumamkan kalimat-kalimat penyentuh langit bukan mengutuki takdir karena mungkin Tuhan lebih menyayangi dan menjadikanmu orang terpilih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar