Seharusnya, kau tahu
hari ini aku pergi ke mana karena aku berharap hanya engkaulah yang menemani.
Seharusnya, kita yang
lebih dulu duduk berdampingan manunggal dalam romansa, bukan mereka. Karena
rencana kita dibuat jauh sebelum mereka.
Seharusnya, tepat
sebulan lalu kita mengukir sejarah. Bersetubuh dengan waktu di antara sesepoi
angin, gemintang malam dan secangkir kopi.
Seharusnya, kau penuhi
janji temani aku hingga masa tua nanti. Bukan seperti ini; meratap sepi,
sendiri.
Seharusnya, kau tak
perlu pergi. Persetan dengan pengabdian. Apa yang kau dapat darinya? Sebuah
prasasti berbalut namamu yang orang katakan sebagai pahlawan, banggakah aku? Ah,
sayang! Ia tak pernah bersenyawa dengan gigil rinduku.
Seharusnya, oh ... seharusnya aku bergerak meninggalkan
titik ini. Tak perlu iri dan menitikan air mata melihat kebahagiaan mereka.
Seharusnya, aku
menggumamkan kalimat-kalimat penyentuh langit bukan mengutuki takdir karena mungkin
Tuhan lebih menyayangi dan menjadikanmu orang terpilih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar