Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Rabu, 11 Desember 2013

PERTIWI MENANGIS


Dibuai ibu Pertiwi,
Engkau menghamba pada kemegahan dunia
Berlena-lena dalam fatamorgana
Lupa, darimana asal diri?

Dibuai ibu Pertiwi,
Moralitas tak berbekas rasionalitas pun dipangkas
Engkau-engkau peramah lalim!
Di empat pejuru, juru warta melansir berita
Jutaan pasang mata terjaga
Kau asyik berselancar argumen
Si bodoh ini tak tahu yang mana topeng dan asli.
Kau lincah sekali menari topeng,
Apakah hidup ini tak lebih dari permainan topeng?
Standing applous, atas bakat aktingmu.
Perfecto...

Dibuai ibu Pertiwi,
Matamu melek tapi tak awas
Pesona Pertiwi menyilaukan indra penglihatanmu,
Sampai-sampai kau buta dengan sekeliling.
Rintih kesakitan tak lagi nyaring terdengar di gendang telinga yang tuli.
Apakah kau tahu arti lara dan nestapa, TIKUS gendut?
Gigi pengeratmu menebar racun berkepanjangan
Kami, yang harus menanggung semua ini?
Oh.. rupanya segumpal daging di tubuhmu pun hilang peka
Apakah ini tanda akhir zaman?
Sungguh, paradoks yang menyedihkan.

ibu Pertiwi menangis,
ibu Pertiwi merana,
ibu Pertiwi berduka.

Sudah, jangan sakiti kami!
Jangan sakiti ibu Pertiwi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar