Sebagian orang yang telah berbuat khilaf pasti akan berkata “Aku hanya manusia biasa” [yang... tak luput dari dosa, memiliki banyak kekurangan dan kerap kali tak dapat mengontrol emosi]. Ada sebagian yang mengucapkannya dengan penuh penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi.
Kata ‘BIASA’
disadari atau tidak sering kita jadikan sebagai pemakluman atau pembenaran atas perkataan maupun tindakan
kita.
Pertanyaannya, mengapa
mudah sekali kalimat itu meluncur dari bibir? Apakah kita cukup puas dengan
mengatakan kalimat itu sebagai bentuk toleransi diri tanpa melakukan upaya
perbaikan? Tentu tidak!
Frasa ‘MANUSIA
BIASA’ jelas merujuk pada penciptaan fitrah manusia, yang mana manusia terlahir
seperti kertas kosong. Kepadanya, Tuhan memberikan akal dan hati nurani. Kita
sendiri yang akan melukis potret kehidupan kita dengan tinta-tinta pilihan.
Kebaikan atau keburukan. Hitam atau putih. Kita melakukan banyak hal dalam
hidup yang didasari oleh apa yang kita pikirkan dan hati yang mengarahkan.
Kemudian akal akan menjabarkannya ke dalam setiap gerakan. Berarti jelas sudah
kalau hati adalah peminpin dan pikiran berperan sebagai pengelola.
Di dalam
pikiran manusia, memiliki tendensi adanya bisikan-bisikan yang memungkinkan
terjadinya persengketaan suara. Satu suara menentang suara lainnya. Saling
bertolak belakang. Selalu ada pertanyaan yang bersifat analisa; kenapa?
Mengapa? Ini menunjukkan bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna, manusia
tempatnya salah atau khilaf. Maka berhati-hatilah dengan pikiran. Pada nurani-lah
letak kebaikan, karena nurani adalah suara lembut tetapi tegas yang tidak
mengenal adanya perselisihan suara, tak memerlukan pertanyaan analisa; kenapa?
mengapa? Namun ... karena suara-suara itu samar dan pelan, hanya sedikit orang
yang bisa menangkap makna di dalamnya. Alangkah baikknya jika kita berusaha untuk
memperbaiki diri dengan mengasah nurani kita supaya tidak tergelincir pada
kesalahan yang sama dan tidak begitu mudahnya mengucapkan kalimat “Aku hanya
manusia biasa” sebagai senjata untuk pembenaran atau menutupi kekurangan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar