Bagaimana
reaksi seorang perempuan dewasa yang belum juga mendapatkan pasangan hidupnya
jika ada yang melontarkan pertanyaan seperti itu? Hmm ... pastinya menohok
hati. Seseorang yang mulai bosan berkata dengan kesal “Sudahlah, kumohon jangan
tanyakan itu lagi!” Atau, ada yang berkata dengan geram ”Tak adakah pertanyaan
lain yang lebih menyenangkan daripada sekedar membahas masalah jodoh?” lalu, ada
juga yang bereaksi keras menjawabnya “Hey, siapa kamu? sampai-sampai urusan
pribadiku—pun, kau selalu ingin tahu. Akankah itu merugikan atau mengganggu
hidupmu? Urusi saja kepentinganmu sendiri dan kau tidak perlu merasa
bertanggung jawab atas jalan hidupku!” sebagian lagi dengan pasrahnya menyungingkan
senyum terpahit yang sangat dipaksakan.
Hai ...
perempuan dan laki-laki yang kebetulan sudah menemukan pasangan dari tulang
rusuknya! Janganlah sering-sering bertanya mengenai urusan jodoh pada mereka yang
tak kunjung mendapatkan pasangan hidupnya, apalagi hal itu dilakukan berulang kali—pada orang yang sama, bisa-bisa bukan
jawaban yang didapat melainkan kemurkaan mereka.
Sadarkah? Hanya
ada dua kemungkinan dari pertanyaan yang menurut kita adalah sesuatu yang lumrah
akan menjadi tidak biasa bagi mereka
yang terlalu sering mendengar, mereka dengan geramnya akan menunjukkan
perlawanan untuk melindungi diri dari sesuatu yang dianggap mengancam ataupun
mengusik ketenangan jiwanya. Kemungkinan kedua, hal itu bukan lagi sesuatu yang menarik perhatian mereka, sehingga tidak
mengundang reaksi sama sekali.
Pernahkah kita
tahu apa yang kita tanyakan mengakibatkan seseorang menjadi sedih, murung dan menitikan
air mata? Atau bahkan lebih parah lagi, ada yang mengurung diri dan enggan
bertemu dengan orang-orang dalam jangka waktu yang lumayan lama. Hmm ... mungkin
kita tidak menyadarinya karena tidak melihat itu secara langsung. Bisa saja
mereka menyembunyikan rasa yang bergejolak itu dengan apik dan membingkainya
dengan sebuah senyuman. Tapi kita tak pernah tahu dibalik senyuman itu tergores
duka yang mendalam akibat pertanyaan yang menurut kita sepele. Wallahu alam, kita
tidak pernah bisa mengukur kedalaman hati seseorang. Kita hanya mengenal ilmu menduga-duga. Dengan ilmu
menduga-duga ini, diharapkan kita bisa lebih peka dan bertoleransi tinggi
terhadap orang lain apalagi menyangkut privasi-nya.
Niat hati,
mungkin kita ingin membantu dengan cara mencari tahu kriteria lelaki seperti
apa yang diinginkan mereka. Tapi aduhai, tak berlebihankah itu? Pertanyaan itu
seperti ungkapan yang menghakimi tanpa menerapkan asas praduga tak bersalah.
Lho ... mengapa demikian? Di dalam menyampaikan sebuah pertanyaan, kita harus memiliki etika bertanya. Melihat
bagaimana kondisi objek, biasanya wanita lajang usia lebih dari 25 th memiliki tingkat
sensitifitas yang tinggi. Pun dengan penekanan bicara, jangan sampai apa yang
kita ucapkan terkesan memaksa, ingin tahu urusan pribadi orang lain. Jenis
pertanyaan seperti ini jika diucapkan dengan penekanan yang tidak baik, akan
menanggalkan kesan ‘seolah-olah
menempatkan mereka sebagai wanita-wanita angkuh yang amat—sangat selektif dalam
memilih.’ Uh ... uh ... uuhhh...!
Dari sudut
pandang korban (objek pembicaraan), mereka sendiri kadang bingung dan sering
bertanya; menelisik ke bilik hatinya. ‘Laki-laki seperti apa yang sesungguhnya
kuinginkan? Orang-orang menganggapku wanita yang berselera tinggi. Lalu,
setinggi apa anganku itu? Benarkah aku begitu angkuh, sampai-sampai di usia
yang matang ini belum juga mendapatkan pasangan? Inikah balasan dari
keangkuhanku?’ semua pertanyaan terasa mentah dan tidak menemui jawaban yang
semestinya. Hingga pada titik jenuh, nuraninya berkata (pada mereka, wanita-wanita yang
berpikir) ‘Aku tak menginginkan seseorang yang rupawan, berlimpah
materi, berkedudukan terpandang ataupun yang cerdas secara akademis. Tidak, itu
bukanlah JAMINAN. Aku hanya menginginkan
dia yang tahu diri, dia yang bisa menempatkan diri sebagai pasangan yang setia
dalam suka dan duka, dia yang senantiasa
takut kepada Tuhan-Nya, dengan rasa takut dan patuhnya pada Tuhan, dia tidak hanya menjadi seseorang yang TAHU,
melainkan dia MAU membimbingku ke jalan yang diridhai-Nya. Itulah yang
namanya tanggung jawab seorang suami, selain
daripada itu; nol. Di mana letak kesalahannya jika aku menginginkan
laki-laki yang seperti itu? Haruskah aku bertindak gegabah dan penuh
ketergesa-gesaan hanya untuk sekedar berganti status?’
‘Laki-laki yang baik untuk wanita
yang baik, begitu juga sebaiknya.’
Bukankah itu
sudah tertulis dengan jelas dalam kitab yang nyata (Lauh mahfudz)?, semua orang
menginginkan yang terbaik sekalipun TIDAK
SEMUA orang baik. Ayolah ... ini hanya masalah waktu, mari perbaiki diri! Karena
dengan kebaikan itu, Insya Allah kita dipertemukan dengan cara-Nya yang menakjubkan, mungkin cara yang tak pernah kita
sangka-sangka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar