Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Rabu, 05 Februari 2014

Terjerat label 'Aku Hanya Manusia Biasa'


         Sebagian orang yang telah berbuat khilaf pasti akan berkata “Aku hanya manusia biasa” [yang... tak luput dari dosa, memiliki banyak kekurangan dan kerap kali tak dapat mengontrol emosi]. Ada sebagian yang mengucapkannya dengan penuh penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi.
Kata ‘BIASA’ disadari atau tidak sering kita jadikan sebagai pemakluman atau pembenaran atas perkataan maupun tindakan kita.
Pertanyaannya, mengapa mudah sekali kalimat itu meluncur dari bibir? Apakah kita cukup puas dengan mengatakan kalimat itu sebagai bentuk toleransi diri tanpa melakukan upaya perbaikan? Tentu tidak!
Frasa ‘MANUSIA BIASA’ jelas merujuk pada penciptaan fitrah manusia, yang mana manusia terlahir seperti kertas kosong. Kepadanya, Tuhan memberikan akal dan hati nurani. Kita sendiri yang akan melukis potret kehidupan kita dengan tinta-tinta pilihan. Kebaikan atau keburukan. Hitam atau putih. Kita melakukan banyak hal dalam hidup yang didasari oleh apa yang kita pikirkan dan hati yang mengarahkan. Kemudian akal akan menjabarkannya ke dalam setiap gerakan. Berarti jelas sudah kalau hati adalah peminpin dan pikiran berperan sebagai pengelola.
Di dalam pikiran manusia, memiliki tendensi adanya bisikan-bisikan yang memungkinkan terjadinya persengketaan suara. Satu suara menentang suara lainnya. Saling bertolak belakang. Selalu ada pertanyaan yang bersifat analisa; kenapa? Mengapa? Ini menunjukkan bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna, manusia tempatnya salah atau khilaf. Maka berhati-hatilah dengan pikiran. Pada nurani-lah letak kebaikan, karena nurani adalah suara lembut tetapi tegas yang tidak mengenal adanya perselisihan suara, tak memerlukan pertanyaan analisa; kenapa? mengapa? Namun ... karena suara-suara itu samar dan pelan, hanya sedikit orang yang bisa menangkap makna di dalamnya. Alangkah baikknya jika kita berusaha untuk memperbaiki diri dengan mengasah nurani kita supaya tidak tergelincir pada kesalahan yang sama dan tidak begitu mudahnya mengucapkan kalimat “Aku hanya manusia biasa” sebagai senjata untuk pembenaran atau menutupi kekurangan diri.

SALAH SATU JENIS PERTANYAAN BIASA YANG TERKESAN TABU

“Kapan menikah? Mau mencari yang seperti apa lagi sih?”
Bagaimana reaksi seorang perempuan dewasa yang belum juga mendapatkan pasangan hidupnya jika ada yang melontarkan pertanyaan seperti itu? Hmm ... pastinya menohok hati. Seseorang yang mulai bosan berkata dengan kesal “Sudahlah, kumohon jangan tanyakan itu lagi!” Atau, ada yang berkata dengan geram ”Tak adakah pertanyaan lain yang lebih menyenangkan daripada sekedar membahas masalah jodoh?” lalu, ada juga yang bereaksi keras menjawabnya “Hey, siapa kamu? sampai-sampai urusan pribadiku—pun, kau selalu ingin tahu. Akankah itu merugikan atau mengganggu hidupmu? Urusi saja kepentinganmu sendiri dan kau tidak perlu merasa bertanggung jawab atas jalan hidupku!” sebagian lagi dengan pasrahnya menyungingkan senyum terpahit yang sangat dipaksakan.
Hai ... perempuan dan laki-laki yang kebetulan sudah menemukan pasangan dari tulang rusuknya! Janganlah sering-sering bertanya mengenai urusan jodoh pada mereka yang tak kunjung mendapatkan pasangan hidupnya, apalagi hal itu dilakukan berulang kali—pada orang yang sama, bisa-bisa bukan jawaban yang didapat melainkan kemurkaan mereka.
Sadarkah? Hanya ada dua kemungkinan dari pertanyaan yang menurut kita adalah sesuatu yang lumrah akan menjadi tidak biasa bagi mereka yang terlalu sering mendengar, mereka dengan geramnya akan menunjukkan perlawanan untuk melindungi diri dari sesuatu yang dianggap mengancam ataupun mengusik ketenangan jiwanya. Kemungkinan kedua, hal itu bukan lagi sesuatu yang menarik perhatian mereka, sehingga tidak mengundang reaksi sama sekali.
Pernahkah kita tahu apa yang kita tanyakan mengakibatkan seseorang menjadi sedih, murung dan menitikan air mata? Atau bahkan lebih parah lagi, ada yang mengurung diri dan enggan bertemu dengan orang-orang dalam jangka waktu yang lumayan lama. Hmm ... mungkin kita tidak menyadarinya karena tidak melihat itu secara langsung. Bisa saja mereka menyembunyikan rasa yang bergejolak itu dengan apik dan membingkainya dengan sebuah senyuman. Tapi kita tak pernah tahu dibalik senyuman itu tergores duka yang mendalam akibat pertanyaan yang menurut kita sepele. Wallahu alam, kita tidak pernah bisa mengukur kedalaman hati seseorang. Kita hanya mengenal ilmu menduga-duga. Dengan ilmu menduga-duga ini, diharapkan kita bisa lebih peka dan bertoleransi tinggi terhadap orang lain apalagi menyangkut privasi-nya.
Niat hati, mungkin kita ingin membantu dengan cara mencari tahu kriteria lelaki seperti apa yang diinginkan mereka. Tapi aduhai, tak berlebihankah itu? Pertanyaan itu seperti ungkapan yang menghakimi tanpa menerapkan asas praduga tak bersalah. Lho ... mengapa demikian? Di dalam menyampaikan sebuah pertanyaan, kita harus memiliki etika bertanya. Melihat bagaimana kondisi objek, biasanya wanita lajang usia lebih dari 25 th memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi. Pun dengan penekanan bicara, jangan sampai apa yang kita ucapkan terkesan memaksa, ingin tahu urusan pribadi orang lain. Jenis pertanyaan seperti ini jika diucapkan dengan penekanan yang tidak baik, akan menanggalkan kesan ‘seolah-olah menempatkan mereka sebagai wanita-wanita angkuh yang amat—sangat selektif dalam memilih.’ Uh ... uh ... uuhhh...!
Dari sudut pandang korban (objek pembicaraan), mereka sendiri kadang bingung dan sering bertanya; menelisik ke bilik hatinya. ‘Laki-laki seperti apa yang sesungguhnya kuinginkan? Orang-orang menganggapku wanita yang berselera tinggi. Lalu, setinggi apa anganku itu? Benarkah aku begitu angkuh, sampai-sampai di usia yang matang ini belum juga mendapatkan pasangan? Inikah balasan dari keangkuhanku?’ semua pertanyaan terasa mentah dan tidak menemui jawaban yang semestinya. Hingga pada titik jenuh, nuraninya berkata (pada mereka, wanita-wanita yang berpikir) ‘Aku tak menginginkan seseorang yang rupawan, berlimpah materi, berkedudukan terpandang ataupun yang cerdas secara akademis. Tidak, itu bukanlah JAMINAN. Aku hanya menginginkan dia yang tahu diri, dia yang bisa menempatkan diri sebagai pasangan yang setia dalam suka dan duka, dia yang senantiasa takut kepada Tuhan-Nya, dengan rasa takut dan patuhnya pada Tuhan, dia tidak hanya menjadi seseorang yang TAHU, melainkan dia MAU membimbingku ke jalan yang diridhai-Nya. Itulah yang namanya tanggung jawab seorang suami, selain daripada itu; nol. Di mana letak kesalahannya jika aku menginginkan laki-laki yang seperti itu? Haruskah aku bertindak gegabah dan penuh ketergesa-gesaan hanya untuk sekedar berganti status?’
‘Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu juga sebaiknya.’
Bukankah itu sudah tertulis dengan jelas dalam kitab yang nyata (Lauh mahfudz)?, semua orang menginginkan yang terbaik sekalipun TIDAK SEMUA orang baik. Ayolah ... ini hanya masalah waktu, mari perbaiki diri! Karena dengan kebaikan itu, Insya Allah kita dipertemukan dengan cara-Nya yang menakjubkan, mungkin cara yang tak pernah kita sangka-sangka.