Aku
adalah si Pecinta Alam
Benarkah kedatanganku hanya karena dirundung
rindu menggebu atau ... justru gravitasi
bumi telah kuat menarikku untuk mengemban sebuah misi yang masih berupa
potongan puzzle?
Reranting
kering mewarnai jalanan perkampungan. Sebuah pohon besar memalang ke badan
jalan saat fotuner hitam yang kutumpangi melintas dengan kecepatan rendah. Dikun
menginjak rem, meminta ijinku untuk keluar menyingkirkannya. Pintu depan
terbuka, sopir pribadiku kembali menstater mobil. Tak kurang dari sepuluh
menit, aku akan sampai di rumah kenangan. Dua puluh tahun lamanya aku meninggalkan
kampung halamanku. Kini, rumah itu ditempati adikku yang nomor dua. Terakhir
kali kuajak istri dan anak-anak saat Wildan berumur delapan tahun dan Zamzam
masih tiga tahun.
Gurindam
mendayu mengalun rapsodi. Bukan dandanggula yang keluar dari mulut sang
penyair, ini hanya sekelumit keresahan lelaki tua di pagi buta.
Bumi bersolekkan orang-orang
pandai,
Ini bukan jamannya nyiur melambai.
Asap mengepul di balik cerobong
besi,
Bumiku terbatuk di tangan tak
berhati.
Pemandangan
mataku dicengangkan oleh menjamurnya bangunan-bangunan baru yang cukup
mentereng di tepian jalan. Tak ada lagi keindahan yang melatari dusun tinggalku
ini. Kedamaian sirna seiring perbuatan tangan-tangan pandir. Segerombolan orang
menjamah hijaunya hutan di kampungku. Ironis. Pohon-pohon yang memagari hutan
satu persatu tumbang ditebas paksa. Setidaknya, itu yang dikatakan adikku saat bicara
di telepon. Padahal dulu, kawasan itu selalu dijaga polisi-polisi hutan dan
para penebang liar itu telah beberapa kali keluar masuk bui. Aku tak mengerti
mengapa mereka tidak jera.
Aksi
penebang liar telah menjadi endemi yang mewabah setelah kuncen leuweung
meninggal tujuh tahun lalu dan tak ada generasi penerus. Aki Ojo satu-satunya
orang yang berpengaruh di kampungku saat itu. Aku masih ingat, dia pernah
memberi wejangan pada muda-mudi yang tergabung dalam kelompok Pecinta Alam
seperti diriku ini. Umurku saat itu masih sembilan belas sedang ki Ojo sekitar
lima puluh tahunan.
“Anaking,
omat tatangkalan di leuweung kudu dipupusti! Mun leuweung ruksak, jalma keneh
nu balangsak.”
Aku
biasa disebut si pendongeng.
Resah
tidak hanya milik mereka, manusia yang berpikir. Pada malam yang hening, kau
akan lebih jelas mendengar keresahan para penghuni bumi. Manusia-manusia yang
tak pernah setuju jika perkampungan mereka disulap menjadi ladang neraka dunia.
Udara yang bergerak-gerak gundah, takut kemurnian mereka tercemar. Gemerisik
dedaunan yang saling cakar menunjukkan keresahan yang mendalam tentang hari
esok.
Alam
semesta bukan milik segelintir kaum tertentu. Orang-orang yang menginginkan
keuntungan besar serta orang yang memerlukan uang dengan cara cepat dan mudah
untuk memenuhi dalih-dalih mereka—kebutuhan rumah tangga. Ketika ketenangan
unsur-unsur alam terusik, wajar kiranya bila mereka mengamuk. Belakangan, aku
telah banyak menyaksikan energi negatif melingkupi dusun ini. Ketidakseimbangan
ekosistem hutan akan menimbulkan bencana suatu saat nanti. Ini bukan bualan si
pendongeng untuk menakut-nakutimu tapi telah tertulis dalam kitab-Nya
Mengapa
hanya alam dan para malaikat yang bertasbih? Mengapa sebagian makhluk—yang
kepadanya Tuhan memberikan akal pikiran justru sama sekali tak mau menundukkan
diri dan bersujud pada-Nya?
Aku
sebuah pohon.
Prretaaaaakkk
... bruukkk....
‘Biar! Biarkan saja mereka
menikmati, karena boleh jadi, esok tinggal puing-puing penyesalan yang tersisa.’
Serapahku
tak membuat tiga lelaki itu mengurungkan niatnya menebas beberapa di antara
kami. Ya. Tentu aku tahu, mana mungkin mereka mengerti bahasa kami yang hanya
berupa gerakan-gerakan resah. Ini mewakili bahasa umum kami, kaum berklorofil. Aku
melihat gurat kecemasan di wajah salah seorang dari mereka yang berjaga di
sudut gelap. Dia mondar-mandir dengan lampu senternya. Sesekali dimatikan.
Beberapa meter dariku, satu orang menghunuskan golok dan seorang lagi sibuk memilah-milah.
Aku
bersyukur pada Tuhan, aku selamat lagi walau kutahu pada kenyataanya akan
berakhir mengenaskan seperti yang menimpa teman-temanku itu. Entah esok atau
malah bertahan beberapa hari, bulan, bisa juga hitungan tahun ke depan.
Mereka
membagi dua bagian tubuh teman-temanku, memanggulnya lalu menurunkannya di atas
gerobak yang telah disediakan. Berjalan tersaruk di antara kegelapan malam dan
rimbunan semak belukar sudah biasa bagi sekawanan pencuri seperti mereka.
Sebentar
lagi subuh. Gelap akan berangsur terang. Tingkat kecemasanku mulai menurun.
Jika hari telah terang, barulah polisi hutan akan mengecek kondisi tempatku
tinggal yang porak poranda.
Aku
adalah si Pecinta Alam
Aku
telah tiba di rumah kenangan saat senandung muadzin mengalun syahdu di subuh
yang kudus. Rusman dan istrinya menyambutku di teras. Hingga petang menjelang
obrolan kami masih seputar kondisi hutan yang memprihatinkan. Menurut penuturan
Rusman, alih fungsi hutan tidak hanya menjadi huma
dan dibangunnya pemukiman penduduk saja. Ada hal besar yang menjadi
perselisihan selain penebangan pohon secara liar. Pernyataan akan dibangunnya
sebuah pabrik di sekitar hutan membuat warga desa menolak mentah-mentah. Aku
bahkan mempertanyakan peran perangkat desa, dalam hal ini kepala desa yang
memangku kewenangan tinggi.
“Begitulah,
Kang. Menurut kepala desanya, tanah yang akan dibangun pabrik bukan termasuk
tanah yang dikelola perum Perhutani. Tapi tanah luar yang tadinya dimiliki
penduduk setempat lalu dijual ke pengusaha. Tetap saja, harusnya pihak desa
memperhatikan dampak yang akan dirasakan penduduk nantinya.”
Cahaya
senja mengintip di balik kisi-kisi jendela. Sore yang cerah. Anak laki-laki
bermain sepak bola di lapangan belum terjamah air hujan. “Ya, perkaranya jadi
rumit kalau berurusan dengan uang. Akan sulit melawan orang-orang yang punya
kekuasaan.”
“Iya.
Jika kau tak punya cukup banyak uang, diamlah dan kubur mimpimu dalam-dalam! Tapi
aku tak bisa seperti itu, Kang” timpal Rusman terkekeh. Marini bergabung. Di
tangannya membawa nampan plastik. Dua cangkir kopi dan sepiring singkong
goreng.
“Di
minum dulu kopinya, Kang!” ujar Marini dan Rusman berbarengan.
Seruput,
kuhirup aroma robusta hitam pekat. Otot-otot kepalaku seketika mencair.
“Eh,
Man, kamu salat maghrib di mesjid?” tanyaku.
Aku
mengembalikan posisi cangkir kopi di meja. “Tunggu sebentar. Aku ambil wudu
dulu.”
Aku
adalah orang yang dituakan selain para kokolot,
orang-orang memanggilku ustadz
Aku
mengutip beberapa ayat Quran berkaitan dengan tema yang sedang kubahas. ‘Dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan akan
dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.’ (Al-A’raf 56) juga Ar-Ruum ayat 41.
Uraian
kali ini membahas hubungan Tuhan, manusia dan alam, bagaimana manusia
memperlakukan alam sebagai pengejawantahan keimanan mereka. Tak disangka, orang
dari kota itu antusias terhadap isi ceramahku.
Aku
memberikan penyuluhan kecil tentang pentingnya menjaga kelestarian alam yang
dimulai dari kesadaran diri. Aku mengajak masyarakat seperti yang kulakukan
pada para santri-santriku di pesantren, dari hal yang kecil, menjaga keseimbangan
ekosistem hayati dengan tidak melakukan perusakan alam seperti yang akhir-akhir
ini marak terjadi. Penebangan liar dan prilaku indisipliner lain, membuang
sampah sembarangan. Miris menyaksikan hutan yang dulunya lebat berubah jadi
padang tandus gersang juga tumpukkan sampah di bibir sungai yang hampir menjadi
bendungan permanen.
Pak
Darman dan adiknya mengajakku meng-orasikan gerakan hijau pada masyarakat. Sebenarnya
itu telah lama digalakkan di pesantren dan cukup berhasil. Kami telah
bekerjasama dengan pihak pemerintah dan komunitas pecinta alam. Namun,
lingkungan luar apatis bahkan terkesan skeptis terhadap upaya kami.
Aku
adalah si pecinta alam
Tergugah
isi ceramah ustadz tadi di mesjid yang penyampaiannya lugas tanpa menggurui, aku
jadi berpikir untuk tinggal lebih lama lagi di sini. Sebuah dusun kecil di kota
Ciamis. Aku menemukan gairahku kembali setelah istriku meninggal dan anak-anak
sibuk menimba ilmu di luar negeri hingga berlanjut ke pekerjaan. Aku ingin
membantu warga di sini bersama Rusman, pak ustadz juga komunitas pecinta alam
dan pelestarian lingkungan hidup.
Ini
malam pertamaku mengatupkan mata dengan mengecup bau kenangan. Semerbak potongan
masa lalu terhimpun dalam pikiranku. Kamar ini? Hmm.... mengingatkan pada masa-masa
kecil dahulu juga almarhumah istriku. Kebersamaan terakhir di kamar ini, saat
Wildan dan Zamzam tak mau tidur terpisah dari kami. Dua putraku memang penakut.
Tentu sekarang berbeda. Mereka telah tumbuh dewasa dan pemberani. Oh! Bukankah
Wildan akan menggarap proyek pertamanya? Bagaimana kabarnya sekarang? Hampir
seminggu dia tidak menghubungiku. Rupanya dia lupa memberitahukan keberadaanya
di mana.
Pagi-pagi
sekali Rusman mengajak sowan ke tempat ustadz Munawir yang berada di lingkungan
pesantren. Lokasinya masih satu kabupaten kota, sekitar setengah jam baru bisa
sampai. Kami berencana melakukan upaya penyelamatan bumi melalui program reboisasi
yang digalakkan secara swadaya. Kami bertiga menjumpai kios penjual tanaman.
Kami
tiba di dusun saat matahari tepat di tengah cakrawala. Ingar bingar di balai
desa kian memanas. Para penduduk berdemo berkaitan dengan isu akan dibangunnya
pabrik di kampungku. Tak lama hening. Menurut kesaksian seseorang, para pendemo
itu telah bergerak ke arah hutan, lokasi akan dibangunnya pabrik. Aku dan
Rusman meluncur ke sana. Pekikan keras terlolong. Tampak puluhan warga menghadang
buldozer yang sedang meratakan tanah. Polisi dan para aktivis gerakan peduli
lingkungan berdatangan. Di tengah gegap gempita, sayup kudengar gerutuan
pendemo “Jadi itu orangnya?” seorang lagi menyahut “Iya. Dia dari Jakarta.”
Mataku
tertuju pada sesosok muda yang berdiri di tengah lautan pendemo. Aku hampir tak
percaya atas penglihatanku.
“Apa
yang kamu lakukan di sini?” teriakku sambil terus menyelip di antara tubuh
kekar pendemo.
“Aku?”
Ia kebingungan. Aku cukup mengerti dengan pemandangan yang sedang kusaksikan.
Hanya saja aku masih enggan mengakuinya.
“Inikah
yang kau sebut sebagai proyek perdana?” tak ada jarak, kami telah saling
berhadapan. Rusman mengekor di belakang. Segenap amarah mengungkung tapi kucoba
menahan untuk tidak memarahinya di depan khalayak. Ada banyak mata yang tengah
mengintai.
Ia
mengangguk. Mulutnya terkunci dan matanya tak berani menatap pandang.
“Sebenarnya, kau tahu kan kalau aku berada di sini?”
Anak
muda itu mengangguk lagi. “Lantas mengapa kamu seolah menyembunyikan diri? Ooh,
ya, aku mengerti” repleks kepalaku terangguk.
“Maafkan
aku!” ucapnya parau.
Rusman
tercekat menelan liurnya. Lekat-lekat ia memandangi laki-laki muda di depan
kami lalu berpindah padaku sambil berkata. “Jadi kau ini Wildan, keponakanku?”
Wildan
mengangguk lalu meraih tangan Rusman dan menciumnya.
Gurat
kekecewaan mendalam terlukis di wajah Rusman. Seorang dari komunitas pecinta
alam datang menghampirinya dan menunjukkan selembar kertas lalu mereka pamit
pada kami.
Aku
tak dapat menangkap teka-teki ini dari awal ketika Wildan tak mau mengatakan
keberadaannya. Putraku tentu tak sepenuhnya salah. Aku tidak sedang membela. Mengapa
Wildan berbohong? Cukup lama kami terdiam di tengah riuhnya para pendemo. Serpihan
masa lalu kembali hadir. Saat aku menjulurkan tali layang-layang. Wildan
menerbangkannya dan Zamzam berlari mengejar ekor layang-layang.
“Ayo,
Ayah. Tarik kuat-kuat talinya. Awas jangan sampai putus!” Wildan kecil berseru.
Dua bocahku berlarian di padang ilalang. Layang-layang itu putus karena tak
kuat menahan gesekan layang-layang lain dan menyangkut di dahan pohon Albasia yang
tinggi. Zamzam menangis dan Wildan diam menahan amarah. Bukan karena putusnya,
dia marah karena ketidakmampuannya mengambil layang-layang itu kembali, ketinggian
pohon itu tak memungkinkannya untuk memanjat. Bahkan aku tak mungkin memanjat
untuk mengambilnya. Pohon itu terlalu kecil dan bisa patah karena tak kuat
menampung bobot tubuhku juga sifat pohonnya yang memiliki tekstur rapuh. Upaya
kami bergantung pada sebatang kayu. Sia-sia, terlalu jauh dari jangakuan.
Layang-layang itu tersangkut di pucuk. Di pelupuk matanya kulihat bulir bening
menggenang. Wildan kecewa. Sambil terisak, dia memintaku menebang pohon itu.
“Jangan
kau rusak alam ini hanya demi mengikuti nafsumu!”
Kasih
sayang yang kucurahkan pada anak-anakku tak cukup membuatnya menjabarkan arti
hidup. Putraku mengajak aku bicara di tempat lain. Kami meninggalkan riuh
rendah pendemo.
Aku
sebuah pohon
Luruhku
bukan berguguran. Tangan-tangan keji-lah yang merobohkan tegak berdirinya
sekawanan kami. Satu persatu di antara kami ditebas makhluk durjana. Apakah
mereka tidak sadar telah menyuapi anak-istri dan saudara-saudara mereka dengan
tangan-tangan haramnya? Bukankah aturan Tuhan sangat jelas? Apa yang mereka
masukkan ke dalam perutnya haruslah halal. Baik sifat barangnya atau cara
mendapatkannya karena sari-sari makanan itu mengalir dalam darah kita. Jika
makanan yang mereka makan diharamkan atau berasal dari sesuatu yang tidak baik,
maka darah mereka pun penuh kotoran.
Hentakkan
bilah golok menghujam tubuhku yang belum cukup umur. Seperti gentala menabuh genderang
kematian. Inilah akhir. Harusnya, para pencuri itu tahu. Untuk mendapatkan
tubuhku, minimalnya menunggu hingga lima belas tahun lamanya. Aku tak punya
kekuatan untuk bertahan. Ada perih yang kurasa ketika bilah golok itu mengikis
setiap mili tubuhku. Pada hentakkan kesepuluh, tubuhku ambruk menghantam bumi.
Aku telah menjadi sama dengan mereka yang terbaring tak berdaya di rerumputan.
Aku
adalah angin
Tak
banyak yang tahu, setiap pergerakanku selalu membawa sebuah pesan. Acap kali
manusia mengabaikan pesanku. Apakah kali ini mereka dapat menangkap sinyal yang
kukirim? Temperaturku berada pada tingkat panas tak normal. Ah! Aku kehilangan
kendali atas diriku. Aku berputar-putar ganas. Menggelinjang. Seperti manusia
yang kerasukan jin, semua menjadi aneh. Gelap. Dan ... seketika hancur.
Aku
mendapati perkampungan ini telah lantak berontak disapu runtuhan tanah merah. Air
sungai tak lagi jernih. Ia telah disulap warna coklat. Keseimbanganku belum
pulih benar. Aku bergerak sedikit malas menuruni permukiman penduduk untuk
mencari berita yang dapat kukabarkan. Sangat mengerikan. Rumah-rumah hancur.
Bergelimangan tubuh kaku terbujur di hamparan lumpur. Apakah aku sedang marah
dan merenggut nyawa mereka dengan sadis? Tidak! Tentu aku tak mau disalahkan
begitu saja. Semua terjadi akibat kesombongan mereka sendiri. Aku prihatin
dengan kondisi yang kusaksikan saat ini.
Aku
adalah hutan
Mungkin
inilah puncak di mana aku tak dapat mengontrol keseimbangan tubuhku. Entah
angin yang bertiup sedemikian kencang, atau aku yang mulai rapuh hingga tak
mampu menopang gangguan. Para intelek menggolongkan peristiwa ini sebagai bentuk
erosi atau bahasa mudahnya tanah longsor. Tentu manusia sendiri yang paling
menderita. Mereka yang berbuat, mereka juga yang merasakan. Aku cukup kasihan
pada angin yang merasa bersalah atas peristiwa ini. Aku juga kasihan pada
pohon-pohon yang layu sebelum berkembang. Padahal, pohon-pohonlah yang punya
potensi tinggi menjaga keseimbangan ekosistem hayati. Mereka mampu menyerap
air, mengontrol udara dan menahan laju air dan erosi.
Tuhan,
tapi aku lebih kasihan pada pak tua yang datang dari kota itu. Tubuh rentanya
telah kaku tersapu reruntuhan dinding tubuhku. Dia telah kembali untuk menyatu
dengan masa lalunya, membawa segenggam niatan baik yang urung terlaksana. Di
sini, di tempat kelahirannya. Tangis sepasang suami istri mewarnai penguburan
jenazahnya. Jarak beberapa meter dari pemakaman, seorang pemuda mengusap cairan
bening yang menganak sungai di pipinya, menyisakan seribu sesal yang tiada
terperikan.