Jangan biarkan jemarimu menganggur

Lihat dan jelajahilah dunia melalui kedua matamu

Kamis, 30 Oktober 2014

Drama Kamar [Pas]

Ada yang belum tuntas,
Rasanya masih membekas,
Di ruang 1 x 1,5 terjadi beberapa menit, lepas. 
Ruangan yang katanya lebih mirip kamar pas
Awas!!!
Teriakmu keras
Tapi aku tak cukup puas,
Rasa ini mencabik dan meremas
Kendali di tangan. Kumainkan kartu As
Bercucur peluh, sekujur tubuh kebas
Eitss... ini bukan adegan panas,
Sungguh! Aku masih waras
Gedormu makin ganas
Beringas
“Tahan dulu, mas!”
Ujarmu melas
Aku malas,
tapi berkemas
“Kau tadi keramas?”
“Tidak, Yas. Aku mulas!”
“Pas!” Kau pun lugas bergegas
Aku tercenung lemas persis sapi peras.
Mengulas perut yang serasa kian menindas
Di dalam sana--di kamar yang katamu mirip kamar pas
Aku tak menangkap bebunyian selain kran air yang menderas
Ah, pasti kau terbebas. Sesuatu dalam perutmu ranggas; terjun bebas

Rabu, 29 Oktober 2014

Pudarnya Pesona Paru-paru Bumi


Aku adalah si Pecinta Alam
Benarkah kedatanganku hanya karena dirundung rindu menggebu atau ...  justru gravitasi bumi telah kuat menarikku untuk mengemban sebuah misi yang masih berupa potongan puzzle?
Reranting kering mewarnai jalanan perkampungan. Sebuah pohon besar memalang ke badan jalan saat fotuner hitam yang kutumpangi melintas dengan kecepatan rendah. Dikun menginjak rem, meminta ijinku untuk keluar menyingkirkannya. Pintu depan terbuka, sopir pribadiku kembali menstater mobil. Tak kurang dari sepuluh menit, aku akan sampai di rumah kenangan. Dua puluh tahun lamanya aku meninggalkan kampung halamanku. Kini, rumah itu ditempati adikku yang nomor dua. Terakhir kali kuajak istri dan anak-anak saat Wildan berumur delapan tahun dan Zamzam masih tiga tahun.
Gurindam mendayu mengalun rapsodi. Bukan dandanggula yang keluar dari mulut sang penyair, ini hanya sekelumit keresahan lelaki tua di pagi buta.
Bumi bersolekkan orang-orang pandai,
Ini bukan jamannya nyiur melambai.
Asap mengepul di balik cerobong besi,
Bumiku terbatuk di tangan tak berhati.
Pemandangan mataku dicengangkan oleh menjamurnya bangunan-bangunan baru yang cukup mentereng di tepian jalan. Tak ada lagi keindahan yang melatari dusun tinggalku ini. Kedamaian sirna seiring perbuatan tangan-tangan pandir. Segerombolan orang menjamah hijaunya hutan di kampungku. Ironis. Pohon-pohon yang memagari hutan satu persatu tumbang ditebas paksa. Setidaknya, itu yang dikatakan adikku saat bicara di telepon. Padahal dulu, kawasan itu selalu dijaga polisi-polisi hutan dan para penebang liar itu telah beberapa kali keluar masuk bui. Aku tak mengerti mengapa mereka tidak jera.
Aksi penebang liar telah menjadi endemi yang mewabah setelah kuncen leuweung[1] meninggal tujuh tahun lalu dan tak ada generasi penerus. Aki Ojo satu-satunya orang yang berpengaruh di kampungku saat itu. Aku masih ingat, dia pernah memberi wejangan pada muda-mudi yang tergabung dalam kelompok Pecinta Alam seperti diriku ini. Umurku saat itu masih sembilan belas sedang ki Ojo sekitar lima puluh tahunan.
“Anaking, omat tatangkalan di leuweung kudu dipupusti! Mun leuweung ruksak, jalma keneh nu balangsak.[2]
Aku biasa disebut si pendongeng.
Resah tidak hanya milik mereka, manusia yang berpikir. Pada malam yang hening, kau akan lebih jelas mendengar keresahan para penghuni bumi. Manusia-manusia yang tak pernah setuju jika perkampungan mereka disulap menjadi ladang neraka dunia. Udara yang bergerak-gerak gundah, takut kemurnian mereka tercemar. Gemerisik dedaunan yang saling cakar menunjukkan keresahan yang mendalam tentang hari esok.
Alam semesta bukan milik segelintir kaum tertentu. Orang-orang yang menginginkan keuntungan besar serta orang yang memerlukan uang dengan cara cepat dan mudah untuk memenuhi dalih-dalih mereka—kebutuhan rumah tangga. Ketika ketenangan unsur-unsur alam terusik, wajar kiranya bila mereka mengamuk. Belakangan, aku telah banyak menyaksikan energi negatif melingkupi dusun ini. Ketidakseimbangan ekosistem hutan akan menimbulkan bencana suatu saat nanti. Ini bukan bualan si pendongeng untuk menakut-nakutimu tapi telah tertulis dalam kitab-Nya
Mengapa hanya alam dan para malaikat yang bertasbih? Mengapa sebagian makhluk—yang kepadanya Tuhan memberikan akal pikiran justru sama sekali tak mau menundukkan diri dan bersujud pada-Nya?
Aku sebuah pohon.
Prretaaaaakkk ... bruukkk....
‘Biar! Biarkan saja mereka menikmati, karena boleh jadi, esok tinggal puing-puing penyesalan yang tersisa.’  
Serapahku tak membuat tiga lelaki itu mengurungkan niatnya menebas beberapa di antara kami. Ya. Tentu aku tahu, mana mungkin mereka mengerti bahasa kami yang hanya berupa gerakan-gerakan resah. Ini mewakili bahasa umum kami, kaum berklorofil. Aku melihat gurat kecemasan di wajah salah seorang dari mereka yang berjaga di sudut gelap. Dia mondar-mandir dengan lampu senternya. Sesekali dimatikan. Beberapa meter dariku, satu orang menghunuskan golok dan seorang lagi sibuk memilah-milah.
Aku bersyukur pada Tuhan, aku selamat lagi walau kutahu pada kenyataanya akan berakhir mengenaskan seperti yang menimpa teman-temanku itu. Entah esok atau malah bertahan beberapa hari, bulan, bisa juga hitungan tahun ke depan.
Mereka membagi dua bagian tubuh teman-temanku, memanggulnya lalu menurunkannya di atas gerobak yang telah disediakan. Berjalan tersaruk di antara kegelapan malam dan rimbunan semak belukar sudah biasa bagi sekawanan pencuri seperti mereka.
Sebentar lagi subuh. Gelap akan berangsur terang. Tingkat kecemasanku mulai menurun. Jika hari telah terang, barulah polisi hutan akan mengecek kondisi tempatku tinggal yang porak poranda.
Aku adalah si Pecinta Alam
Aku telah tiba di rumah kenangan saat senandung muadzin mengalun syahdu di subuh yang kudus. Rusman dan istrinya menyambutku di teras. Hingga petang menjelang obrolan kami masih seputar kondisi hutan yang memprihatinkan. Menurut penuturan Rusman, alih fungsi hutan tidak hanya menjadi huma[3] dan dibangunnya pemukiman penduduk saja. Ada hal besar yang menjadi perselisihan selain penebangan pohon secara liar. Pernyataan akan dibangunnya sebuah pabrik di sekitar hutan membuat warga desa menolak mentah-mentah. Aku bahkan mempertanyakan peran perangkat desa, dalam hal ini kepala desa yang memangku kewenangan tinggi.
“Begitulah, Kang. Menurut kepala desanya, tanah yang akan dibangun pabrik bukan termasuk tanah yang dikelola perum Perhutani. Tapi tanah luar yang tadinya dimiliki penduduk setempat lalu dijual ke pengusaha. Tetap saja, harusnya pihak desa memperhatikan dampak yang akan dirasakan penduduk nantinya.”
Cahaya senja mengintip di balik kisi-kisi jendela. Sore yang cerah. Anak laki-laki bermain sepak bola di lapangan belum terjamah air hujan. “Ya, perkaranya jadi rumit kalau berurusan dengan uang. Akan sulit melawan orang-orang yang punya kekuasaan.”
“Iya. Jika kau tak punya cukup banyak uang, diamlah dan kubur mimpimu dalam-dalam! Tapi aku tak bisa seperti itu, Kang” timpal Rusman terkekeh. Marini bergabung. Di tangannya membawa nampan plastik. Dua cangkir kopi dan sepiring singkong goreng.
“Di minum dulu kopinya, Kang!” ujar Marini dan Rusman berbarengan.
Seruput, kuhirup aroma robusta hitam pekat. Otot-otot kepalaku seketika mencair.
“Eh, Man, kamu salat maghrib di mesjid?” tanyaku.
“Iya, Akang[4] mau ikut?”
Aku mengembalikan posisi cangkir kopi di meja. “Tunggu sebentar. Aku ambil wudu dulu.”
Aku adalah orang yang dituakan selain para kokolot[5], orang-orang memanggilku ustadz
Aku mengutip beberapa ayat Quran berkaitan dengan tema yang sedang kubahas. ‘Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan akan dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.’ (Al-A’raf 56) juga Ar-Ruum ayat 41.
Uraian kali ini membahas hubungan Tuhan, manusia dan alam, bagaimana manusia memperlakukan alam sebagai pengejawantahan keimanan mereka. Tak disangka, orang dari kota itu antusias terhadap isi ceramahku.
Aku memberikan penyuluhan kecil tentang pentingnya menjaga kelestarian alam yang dimulai dari kesadaran diri. Aku mengajak masyarakat seperti yang kulakukan pada para santri-santriku di pesantren, dari hal yang kecil, menjaga keseimbangan ekosistem hayati dengan tidak melakukan perusakan alam seperti yang akhir-akhir ini marak terjadi. Penebangan liar dan prilaku indisipliner lain, membuang sampah sembarangan. Miris menyaksikan hutan yang dulunya lebat berubah jadi padang tandus gersang juga tumpukkan sampah di bibir sungai yang hampir menjadi bendungan permanen.
Pak Darman dan adiknya mengajakku meng-orasikan gerakan hijau pada masyarakat. Sebenarnya itu telah lama digalakkan di pesantren dan cukup berhasil. Kami telah bekerjasama dengan pihak pemerintah dan komunitas pecinta alam. Namun, lingkungan luar apatis bahkan terkesan skeptis terhadap upaya kami.
Aku adalah si pecinta alam
Tergugah isi ceramah ustadz tadi di mesjid yang penyampaiannya lugas tanpa menggurui, aku jadi berpikir untuk tinggal lebih lama lagi di sini. Sebuah dusun kecil di kota Ciamis. Aku menemukan gairahku kembali setelah istriku meninggal dan anak-anak sibuk menimba ilmu di luar negeri hingga berlanjut ke pekerjaan. Aku ingin membantu warga di sini bersama Rusman, pak ustadz juga komunitas pecinta alam dan pelestarian lingkungan hidup.
Ini malam pertamaku mengatupkan mata dengan mengecup bau kenangan. Semerbak potongan masa lalu terhimpun dalam pikiranku. Kamar ini? Hmm.... mengingatkan pada masa-masa kecil dahulu juga almarhumah istriku. Kebersamaan terakhir di kamar ini, saat Wildan dan Zamzam tak mau tidur terpisah dari kami. Dua putraku memang penakut. Tentu sekarang berbeda. Mereka telah tumbuh dewasa dan pemberani. Oh! Bukankah Wildan akan menggarap proyek pertamanya? Bagaimana kabarnya sekarang? Hampir seminggu dia tidak menghubungiku. Rupanya dia lupa memberitahukan keberadaanya di mana.
Pagi-pagi sekali Rusman mengajak sowan ke tempat ustadz Munawir yang berada di lingkungan pesantren. Lokasinya masih satu kabupaten kota, sekitar setengah jam baru bisa sampai. Kami berencana melakukan upaya penyelamatan bumi melalui program reboisasi yang digalakkan secara swadaya. Kami bertiga menjumpai kios penjual tanaman.
Kami tiba di dusun saat matahari tepat di tengah cakrawala. Ingar bingar di balai desa kian memanas. Para penduduk berdemo berkaitan dengan isu akan dibangunnya pabrik di kampungku. Tak lama hening. Menurut kesaksian seseorang, para pendemo itu telah bergerak ke arah hutan, lokasi akan dibangunnya pabrik. Aku dan Rusman meluncur ke sana. Pekikan keras terlolong. Tampak puluhan warga menghadang buldozer yang sedang meratakan tanah. Polisi dan para aktivis gerakan peduli lingkungan berdatangan. Di tengah gegap gempita, sayup kudengar gerutuan pendemo “Jadi itu orangnya?” seorang lagi menyahut “Iya. Dia dari Jakarta.”
Mataku tertuju pada sesosok muda yang berdiri di tengah lautan pendemo. Aku hampir tak percaya atas penglihatanku.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” teriakku sambil terus menyelip di antara tubuh kekar pendemo.
“Aku?” Ia kebingungan. Aku cukup mengerti dengan pemandangan yang sedang kusaksikan. Hanya saja aku masih enggan mengakuinya.
“Inikah yang kau sebut sebagai proyek perdana?” tak ada jarak, kami telah saling berhadapan. Rusman mengekor di belakang. Segenap amarah mengungkung tapi kucoba menahan untuk tidak memarahinya di depan khalayak. Ada banyak mata yang tengah mengintai.
Ia mengangguk. Mulutnya terkunci dan matanya tak berani menatap pandang. “Sebenarnya, kau tahu kan kalau aku berada di sini?”
Anak muda itu mengangguk lagi. “Lantas mengapa kamu seolah menyembunyikan diri? Ooh, ya, aku mengerti” repleks kepalaku terangguk.
“Maafkan aku!” ucapnya parau.
Rusman tercekat menelan liurnya. Lekat-lekat ia memandangi laki-laki muda di depan kami lalu berpindah padaku sambil berkata. “Jadi kau ini Wildan, keponakanku?”
Wildan mengangguk lalu meraih tangan Rusman dan menciumnya.
Gurat kekecewaan mendalam terlukis di wajah Rusman. Seorang dari komunitas pecinta alam datang menghampirinya dan menunjukkan selembar kertas lalu mereka pamit pada kami.
Aku tak dapat menangkap teka-teki ini dari awal ketika Wildan tak mau mengatakan keberadaannya. Putraku tentu tak sepenuhnya salah. Aku tidak sedang membela. Mengapa Wildan berbohong? Cukup lama kami terdiam di tengah riuhnya para pendemo. Serpihan masa lalu kembali hadir. Saat aku menjulurkan tali layang-layang. Wildan menerbangkannya dan Zamzam berlari mengejar ekor layang-layang. 
“Ayo, Ayah. Tarik kuat-kuat talinya. Awas jangan sampai putus!” Wildan kecil berseru. Dua bocahku berlarian di padang ilalang. Layang-layang itu putus karena tak kuat menahan gesekan layang-layang lain dan menyangkut di dahan pohon Albasia yang tinggi. Zamzam menangis dan Wildan diam menahan amarah. Bukan karena putusnya, dia marah karena ketidakmampuannya mengambil layang-layang itu kembali, ketinggian pohon itu tak memungkinkannya untuk memanjat. Bahkan aku tak mungkin memanjat untuk mengambilnya. Pohon itu terlalu kecil dan bisa patah karena tak kuat menampung bobot tubuhku juga sifat pohonnya yang memiliki tekstur rapuh. Upaya kami bergantung pada sebatang kayu. Sia-sia, terlalu jauh dari jangakuan. Layang-layang itu tersangkut di pucuk. Di pelupuk matanya kulihat bulir bening menggenang. Wildan kecewa. Sambil terisak, dia memintaku menebang pohon itu.
“Jangan kau rusak alam ini hanya demi mengikuti nafsumu!”
Kasih sayang yang kucurahkan pada anak-anakku tak cukup membuatnya menjabarkan arti hidup. Putraku mengajak aku bicara di tempat lain. Kami meninggalkan riuh rendah pendemo.
Aku sebuah pohon
Luruhku bukan berguguran. Tangan-tangan keji-lah yang merobohkan tegak berdirinya sekawanan kami. Satu persatu di antara kami ditebas makhluk durjana. Apakah mereka tidak sadar telah menyuapi anak-istri dan saudara-saudara mereka dengan tangan-tangan haramnya? Bukankah aturan Tuhan sangat jelas? Apa yang mereka masukkan ke dalam perutnya haruslah halal. Baik sifat barangnya atau cara mendapatkannya karena sari-sari makanan itu mengalir dalam darah kita. Jika makanan yang mereka makan diharamkan atau berasal dari sesuatu yang tidak baik, maka darah mereka pun penuh kotoran.
Hentakkan bilah golok menghujam tubuhku yang belum cukup umur. Seperti gentala menabuh genderang kematian. Inilah akhir. Harusnya, para pencuri itu tahu. Untuk mendapatkan tubuhku, minimalnya menunggu hingga lima belas tahun lamanya. Aku tak punya kekuatan untuk bertahan. Ada perih yang kurasa ketika bilah golok itu mengikis setiap mili tubuhku. Pada hentakkan kesepuluh, tubuhku ambruk menghantam bumi. Aku telah menjadi sama dengan mereka yang terbaring tak berdaya di rerumputan.
Aku adalah angin
Tak banyak yang tahu, setiap pergerakanku selalu membawa sebuah pesan. Acap kali manusia mengabaikan pesanku. Apakah kali ini mereka dapat menangkap sinyal yang kukirim? Temperaturku berada pada tingkat panas tak normal. Ah! Aku kehilangan kendali atas diriku. Aku berputar-putar ganas. Menggelinjang. Seperti manusia yang kerasukan jin, semua menjadi aneh. Gelap. Dan ... seketika hancur.
Aku mendapati perkampungan ini telah lantak berontak disapu runtuhan tanah merah. Air sungai tak lagi jernih. Ia telah disulap warna coklat. Keseimbanganku belum pulih benar. Aku bergerak sedikit malas menuruni permukiman penduduk untuk mencari berita yang dapat kukabarkan. Sangat mengerikan. Rumah-rumah hancur. Bergelimangan tubuh kaku terbujur di hamparan lumpur. Apakah aku sedang marah dan merenggut nyawa mereka dengan sadis? Tidak! Tentu aku tak mau disalahkan begitu saja. Semua terjadi akibat kesombongan mereka sendiri. Aku prihatin dengan kondisi yang kusaksikan saat ini.
Aku adalah hutan
Mungkin inilah puncak di mana aku tak dapat mengontrol keseimbangan tubuhku. Entah angin yang bertiup sedemikian kencang, atau aku yang mulai rapuh hingga tak mampu menopang gangguan. Para intelek menggolongkan peristiwa ini sebagai bentuk erosi atau bahasa mudahnya tanah longsor. Tentu manusia sendiri yang paling menderita. Mereka yang berbuat, mereka juga yang merasakan. Aku cukup kasihan pada angin yang merasa bersalah atas peristiwa ini. Aku juga kasihan pada pohon-pohon yang layu sebelum berkembang. Padahal, pohon-pohonlah yang punya potensi tinggi menjaga keseimbangan ekosistem hayati. Mereka mampu menyerap air, mengontrol udara dan menahan laju air dan erosi.
Tuhan, tapi aku lebih kasihan pada pak tua yang datang dari kota itu. Tubuh rentanya telah kaku tersapu reruntuhan dinding tubuhku. Dia telah kembali untuk menyatu dengan masa lalunya, membawa segenggam niatan baik yang urung terlaksana. Di sini, di tempat kelahirannya. Tangis sepasang suami istri mewarnai penguburan jenazahnya. Jarak beberapa meter dari pemakaman, seorang pemuda mengusap cairan bening yang menganak sungai di pipinya, menyisakan seribu sesal yang tiada terperikan.




[1] Juru kunci hutan
[2] Anakku, ingat! Pohon-pohon di hutan harus dihormati. Kalau hutan rusak, manusia juga yang sengsara.
[3] Ladang
[4] Kakak (Laki-laki)
[5] Tetua kampung

Cinta dan Belenggu Adat

Sebuah cerpen yang pernah diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen bertema 'Saat Hati Berbicara'  di portal Hutanta.com. Semoga bisa dinikmati.

Jika ada yang lebih tahu tentang sebuah rahasia, pastilah aku jawabannya. Aku terlahir dari peleburan malam, keresahan dan amarah terpendam tuanku yang malang di saat insomnia menderanya. Saat mulut terkunci dan kata-kata enggan keluar dari tenggorokan, hanya ketukan jemari yang menyuarakan kepiluan.
Dulu, dulu sekali. Para pendahuluku tercipta dari liuk tari jemari yang disandarkan pada sebuah pena lalu bergumul dengan tinta hitam di ujung kertas, terbentuklah sebuah goresan. Bisa jadi sangat berarti, bisa saja sekawanan kata tak bermakna. Tapi kini ... dunia terlalu canggih, kawan. Beberapa kali hentak, aku muncul di layar tersusun dalam deret huruf yang apik. Maaf, bila terlalu berbasa-basi. Kisahku pasti tak menarik bagimu. Akan kuceritakan tentang catatan harian dan surat-surat tuanku yang tak pernah sampai. Tapi, tunggu dulu! Terlalu lancang jika kuumbar semua tanpa seijinnya. Bagaimana? Hmm ... baiklah! Aku terlanjur berjanji. Setelah semua kuceritakan, aku harus segera meminta maaf sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelancanganku pada tuan.
*®*
Kuajak matamu langsung menyusur ke bagian inti tulisan;
Lubuk Begalung, awal Desember 2011.
Tepat sebulan setelah kuumumkan perpisahan kita. Aku masih mengingat jelas rautmu yang kecewa. Kau datangi aku dengan amarah menyala-nyala seolah ingin memuntahkan bara yang dapat membakar sesiapa yang ada di sampingmu. Kau tak terima, sayang. Harus dengan cara apa aku menjelaskan?
Bermalam-malam, berminggu-minggu, otakku penat memikirkan usulmu. Terbersit untuk mengambil pintasan. Toh pada akhirnya benar apa yang kaukata, lambat laun; terpaksa atau tidak, mereka akan menerima. Pasti. Tapi ... kau jangan cemburu! Wajah perempuan di seberang sana membuyarkan semua lamunan tentang kita yang kupikirkan malam itu. Maaf, bila kau merasa aku mengabaikan dan memosisikanmu di urutan kedua setelahnya. Apa dayaku? Perempuan itu hadir lebih dulu dan harus kuakui hingga saat ini namanya bermukim di singgasana hati mungkin selamanya tak akan terganti. Ia datang mengulurkan tangan di saat aku membutuhkan bantuan tanpa sedikitpun mengharap balasan. Ia tak pernah beranjak saat aku berpaling dan membagi kasih sayang denganmu. Selama ini ia masih yang terhebat, tak kenal lelah mengajariku bangkit lalu berjalan kembali saat kuterjatuh.
Aku yakin, kau pun sama. Ada orang pertama yang jadi prioritasmu. Aku bisa melihatnya dari pancaran matamu saat terakhir kita bertemu pandang. Saat itu, kita berdiri di lepas Pantai Air Manis yang konon jadi saksi Si anak durhaka dikutuk ibunya hingga berubah jadi batu. Hampir tiap liburan kau mengajakku ke pantai ini. Khusus hari itu, aku tiba lebih dulu karena kita tak pergi berbarengan lagi. Kau raih tanganku, lirih berkata.
“Ikutlah denganku dan kita akan bahagia!”
 “Maafkan aku. Untuk raih bahagia, bukan cara ini yang kuinginkan.” Sesaat kupandangi wajahmu lalu kutepiskan cengkraman tangan yang melingkari lenganku. Aku memalingkan muka ke pijakkan kaki.
Kau mengguncang-guncang tubuhku yang tertunduk lusuh. “Lantas apa maumu? Coba katakan padaku jalan keluarnya! Mengapa kau hanya diam dan lantas pasrah? Kita tak mungkin terbelenggu adat nan diadatkan[1], Laras.”
“Kau salah. Bagi keluarga besarmu itu bukanlah adat nan diadatkan, melainkan adat nan sabana adat[2]. Keluarga besarmu adalah keluarga yang patuh adat dan kuhargai itu. Kau harus mengerti, kita datang dari latar belakang yang berbeda. Kau orang berada dengan jenjang pendidikan yang tinggi dan keluargamu cukup terpandang di Pariaman. Aku menyerah. Sekuat apa pun bekerja keras, tak akan mampu membayar besarnya tuntutan yang diajukan keluargamu. Aku tak memiliki dana untuk menjemputmu, Buyung!”
“Aku pernah memberi solusi, bukan? Hilangkan egomu! Terimalah apa yang kuberi dan kaugunakan uang itu untuk proses bajapuik[3] nanti. Beres?” Kau bicara sedikit ragu seolah tak yakin akan melakukannya. Mimik muka yang risau tak mampu kausembunyikan.
“Buyung!” sahutku parau. “Kau juga harus tahu, keluargaku sama terutama Si Mbok. Aku tak mungkin mengabaikan perintahnya.” Himpitan di dada teramat berat mendorong bulir bening menyeruak dari sudut mataku. “Di mana pun kau berada dan dengan siapa jadinya, kedudukanmu tetaplah urang sumando[4]. Itu berlawanan dengan adat kami sebagai orang Jawa, justru kaum laki-lakilah yang biasa melakukan hal itu. Bukan kami, kaum perempuan yang menjemput lelaki seperti dalam adatmu. Bagiku....” Kuambil jeda. “Arti pernikahan bukan sekedar menyatukan dua jiwa tapi sekaligus menyatukan dua keluarga. Bagaimana keluarga kita bisa bersatu jika keluargamu bersikeras dengan keinginan mereka dan Si Mbokku dengan keinginannya juga?”
“Harga diri yang kaumaksud?” Gelegar suaramu bagai ombak menghantam karang.
Aku tak menjawab. Menahan amarah yang kian menyesak, kutarik napas kuat-kuat.
“Sejenak lupakan tentang harga diri, Larasku!” Suaramu melunak diselingi debur ombak beriak kecil. Burung Camar mengepakkan sayap kebebasan menembus awan gemawan yang bergelayut pekat serupa timah hitam di cakrawala. “Kalau kau takut pada ibumu, tak perlu mengatakan dari mana datangnya dana yang kaupunya.”
Oh, Buyung! Mungkin bagimu semua urusan bisa diselesaikan dengan materi. Tidak bagiku. Ada yang lebih penting dari sekedar materi. Kau benar, harga diri. Aku ingat betul pesan perempuan itu, hanya satu yang harus dimiliki seorang perempuan Jawa dan harus dipertahankan adalah kehormatan. Harga diri keluarga.
Catatan itu berakhir. Pada lembar lain aku menemukan surat terpendam yang tak pernah sampai pada Si Empunya. Seperti yang kalian tebak, Laraswati tuanku terlahir dari kalangan biasa. Ia berdarah Jawa yang kebetulan merantau ke Ranah Minang dan telah lima tahun bekerja di Lubuk Begalung, Padang. Ia bekerja pada perusahaan Asuransi Perkreditan hingga dipertemukan dengan pemuda tampan nan mapan bernama Buyung. Usia Laras terbilang matang untuk sebuah pernikahan, menginjak tiga puluh tahun. Mengingat statusnya masih lajang, dalam adat Minang ia disebut gadih gadang indak balaki[5]. Julukan yang cukup membuat kupingnya terasa panas. Sama dengan sebutan perawan tua bila di Jawa dan inilah surat malangnya yang menurutku terlalu singkat, kupikir mungkin belum selesai.
*®*
Teruntuk Buyungku tercinta,
Telah kulalui perenungan panjang demi memikirkan kebahagiaan kita. Maka aku putuskan untuk berjuang denganmu. Melawan sistem. Menentang Ninik-Mamak[6] juga Si Mbok. Perlakuan Amak[7] yang beda dari Ninik-Mamakmu adalah selaksa pelita bagi kelanjutan hubungan kita. Tapi terlambat. Di saat aku meninggalkan perempuan yang kusebut Si Mbok di atas pembaringannya akibat ulahku, di tempat lain, aku menyaksikan kau mengucap ikrar suci di hadapan wali dan para saksi. Sakit. Sungguh sakit melihatmu bersisian dengan gadis lain yang di kepalanya terpasang suntiang seberat 8 kilo. Maka detik itu, cintaku berakhir di hari sakralmu, kota terlarang bagiku. Setidaknya Si Mbok pernah wanti-wanti untuk tidak menginjak kali kedua di kotamu karena ketidakmampuan kami mengimbangi permintaan Ninik-Mamak dan keluarga besarmu. “Jangan berani menyabung cinta di Pariaman jika kau tak memiliki kematangan materi. Apa yang kita punya? Bahkan tak ada harta yang layak digadai. Lupakan! Semua itu hanya menyusahkan hatimu sendiri karena cinta kasih yang kaupunya akan mati terjagal adat yang kuat mengikat mereka. Ingat itu, Nduk!” Ucap Si Mbok saat itu.
Buyung, kau tak pernah tahu betapa aku merasa gila karena kini kulewatkan hariku dengan berandai-andai. Seandainya saat itu aku mengesampinkan harga diri dan menuruti pintamu, atau kita kawin lari? Mungkin ceritanya akan lain. Tapi ... seandainya aku menurut pada Si Mbok; melupakanmu dan kembali ke tanah Jawa, mungkin saat ini tak akan dihadapkan pada kenyataan pahit. Kehilangan dua orang yang kucinta dalam tempo bersamaan adalah siksaan. Si Mbok menghembuskan napas terakhir dari balik selang oksigen saat aku mengunjungi kotamu dan hanya disaksikan perawat jaga. Naas, Si anak durhaka ini tak sempat peroleh maafnya. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu seperti dalam dongeng yang melegenda. Lebih dari itu, Tuhan menghukum dengan mengambil Si Mbok dariku. Tentu aku sadar, kepergian Si Mbok adalah kehendak Ilahi. Yang kusesalkan adalah cara kepergian yang tak membawa rasa bahagia di akhir hidupnya. Serupa cintaku yang terjagal adat nan diadatkan. Apa yang kudapat setelah tunduk pada keegoisan? Tak ada, Buyung. Di mata keluarga dan orang-orang se-adatmu, aku tetap gadih gadang indak balaki. Terlarang sudah segala rinduku padamu.




[1] Adat yang diadatkan
[2] Adat sebenarnya, adat yang turun temurun.
[3] Proses menjemput calon suami dalam adat Pariaman.
[4] Tamu
[5] Gadis dewasa tidak/ belum bersuami
[6] Kesatuan pemangku adat, para orang tua.
[7] Ibu 

Rabu, 16 April 2014

Bukan Serumpun Rindu



Katamu, Jawa dan Sumatera tak mungkin menyatu. Tipis harapan bisa bergandengan tangan. Pada semesta kita teriak; berontak. Tersulut pusara rindu di daratan yang berbeda. Kau rindu, aku rindu.

Aku belajar kesetiaan dari gugusan pulau yang terbenam di dasar laut. Mereka terpisah, sebenarnya menyatu. Setia menyangga bobot rindu tak sampai. Rindu yang hanya berisi kisah tentang engkau dan aku.

Ingatkah kau, bukankah jemariku pernah berpesan pada sentuhan yang kulepas di dermaga cinta?
‘Jarak dan waktu bukanlah perintang, aku akan setia menunggu.’

Bila hari mulai gelap, kau ingatkan aku untuk membuka daun jendela. “Lihatlah!” katamu. Nyaris setiap malam aku hanya bisa mendengar desah nafas dan gemerisik celotehmu di balik corong seluler di antara gerak sinyal yang tersendat. Kita berdiri di daratan yang beda, namun menghirup udara dan memandang langit yang sama. Menunggu keajaiban bintang jatuh adalah penawar atas rindu yang membuncah. Lalu, kita berpesan padanya tentang segala kerinduan ini. Begitulah di awal-awal perpisahan yang berbalut jarak dan pengharapan.

Kini ... aku tak yakin kau masih mengecap rasa yang sama. Saat kau berhenti memintaku mengintip malam di daun jendela, saat kau tak lagi menitipkan kerinduanmu pada bintang jatuh. Saat itu pula aku sadar rindumu hanya sebesar ombak pasang, setinggi gunungan pasir yang tergerus hembusan taifun. Kau tak dapat mengelak dari badai itu, sayang. Sungguh kuat pesona bidadari seberang. Bukan salah jarak, tapi perpisahan itu benar-benar nyata terjadi.

Aku rindu, kamu...?
Bukan Serumpun rindu.

Selasa, 15 April 2014

Nyanyian Tunggal



Seharusnya, kau tahu hari ini aku pergi ke mana karena aku berharap hanya engkaulah yang menemani.

Seharusnya, kita yang lebih dulu duduk berdampingan manunggal dalam romansa, bukan mereka. Karena rencana kita dibuat jauh sebelum mereka.

Seharusnya, tepat sebulan lalu kita mengukir sejarah. Bersetubuh dengan waktu di antara sesepoi angin, gemintang malam dan secangkir kopi.

Seharusnya, kau penuhi janji temani aku hingga masa tua nanti. Bukan seperti ini; meratap sepi, sendiri.

Seharusnya, kau tak perlu pergi. Persetan dengan pengabdian. Apa yang kau dapat darinya? Sebuah prasasti berbalut namamu yang orang katakan sebagai pahlawan, banggakah aku? Ah, sayang! Ia tak pernah bersenyawa dengan gigil rinduku.

Seharusnya,  oh ... seharusnya aku bergerak meninggalkan titik ini. Tak perlu iri dan menitikan air mata melihat kebahagiaan mereka.

Seharusnya, aku menggumamkan kalimat-kalimat penyentuh langit bukan mengutuki takdir karena mungkin Tuhan lebih menyayangi dan menjadikanmu orang terpilih.